PEMBAHASAN
MATERI
ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
KELAS 5
PROKLAMASI KEMERDEKAAN DAN UPAYA
MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN
I.
RINGKASAN MATERI
A. Peristiwa-Peristiwa Menjelang Proklamasi
1.
Kekalahan Jepang dalam Perang
Pasifik
Menjelang
akhir PD II, Jepang mengalami banyak kekalahan. Pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 kota Hirosima dan
Nagasaki dibom oleh Sekutu. Pada tanggal11 Agustus 1945, Jepang memberikan
janji kemerdekaan yang disampaikan kepada tiga orang pemimpin Indonesia, yaitu
Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta danDr. Rajiman Wedyodiningrat. Ketiganya diminta
mempersiapkan kemerdekaan.Dengan janji ini Jepang berharap, rakyat Indonesia
mau membantu Jepang yang semakin terdesak dan mengalami kekalahan di mana-mana.
2.
Peristiwa di
sekitar Proklamasi Kemerdekaan
Sebelum
janjinya terpenuhi, pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah
tanpa syarat kepada Sekutu. Berita kekalahan Jepang tersebut masih
dirahasiakan.Tetapi salah seorang pemuda Indonesia yaitu Sutan Syahrir mendengar
lewat siaran radio luar negeri. Akhirnya pada tanggal 15 Agustus golongan
pemuda yang terdiri dari Wikana, Sutan Syahrir, Darwis dan lain-lain mendesak
Bung Karno untuk segera mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini ditolak oleh
para golongan tua dengan alasan harus dibicarakan dalam sidang PPKI.
a.
Peristiwa
Rengas Dengklok
Pada tanggal 16 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta
diculik oleh golongan muda dibawa ke Rengasdengklok. Tujuan mereka adalah
mengamankan tokoh bangsa dari pengaruh Jepang. Mereka meyakinkan Soekarno bahwa
jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun
resikonya.
b.
Perumusan
Naskah Proklamasi
Perundingan antara
golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan
teks
proklamasi kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 – 04.00 dini hari.
Teks proklamasi ditulis di kediaman Soekarno, Jln. Pegangsaan Timur 56 Jakarta.
Naskah
proklamasi disusun oleh tiga orang, yaitu Bung Karno, Bung Hatta,
dan Ahmad Soebarjo. Teks proklamasi terdiri dari dua
kalimat, yang ditulis oleh
Bung Karno.
Kalimat pertama dikutip oleh Mr. Ahmad Soebarjo dari piagam Jakarta, kemudian
Bung Hatta menyempurnakan dengan kalimat kedua.
Pada
awalnya, para pemuda mengusulkan agar naskah proklamasi
menyatakan semua aparat pemerintahan harus dikuasai
oleh rakyat dari pihak yang masih menguasainya. Tetapi, mayoritas anggota PPKI
tidak menyetujuinya.
Pada
akhirnya, disetujuilah naskah proklamasi seperti adanya hingga sekarang. Para
pemuda juga meninginkan agar naskah proklamasi turut ditandatangani oleh enam
pemuda bersama Soekarno dan Hatta dan bukan para anggota PPKI. Mereka
beranggapan bahwa PPKI adalah wakil Jepang. Kemudian dicapailah kesepakatan
dengan menuliskan “atas nama bangsa Indonesia”.
Naskah
teks proklamasi disepakati dan ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Moh. Hatta
atas nama bangsa Indonesia. Naskah tersebut diketik oleh Sayuti Melik.
Penandatanganan teks proklamasi dilakukan oleh dua tokoh tersebut atas usul
Sukarni. Tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut di antaranya Chairul Saleh,
Sukarni, Sayuti Melik, B.M Diah, Sudiro, dan tokoh-tokoh tua yang lain.
c.
Detik-Detik
Proklamasi
Sesuai
janji Ahmad Soebarjo, esok harinya Jumat 17 Agustus 1945 di Jalan
Pegangsaan Timur 56 Jakarta, diadakan upacara bendera
dan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Tepat pukul 10.00
WIB Ir. Soekarno berpidato singkat dan membacakan teks proklamasi kemerdekaan
Republik Indonesia. Acara selanjutnya upacara pengibaran bendera sang merah
putih oleh S. Suhud dan Latief Hendraningrat yang diiringi dengan lagu
Indonesia Raya. Bendera tersebut dijahit oleh Ibu Fatmawati Soekarno.
Tokoh yang hadir di antaranya adalah Ki Hajar
Dewantara, Dr. Moewardi, A.A. Maramis, A.G. Pringgodigito dan tokoh-tokoh dari
PPKI maupun para pemuda. Pada saat itu yang hadir lebih dari seribu orang. Guna
mengenang jasanya maka Ir. Soekarno dan Moh. Hatta dijuluki sebagai pahlawan
proklamator Indonesia.
Tokoh-tokoh penting yang berperan dalam proklamasi kemerdekaan antara lain: Ir. Soekarno dan Drs.
Mohammad Hatta, Chaerul Saleh, Sukarni, Latief Hendraningrat, dan Sayuti Melik,
Ibu Fatmawati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar